Jumat, 06 September 2013

Abdullah bin 'Umar (Wafat 72 H)


Periwayatan paling banyak berikutnya sesudah Abu Hurairah adalah Abdullah bin Umar. Ia meriwayatkan 2.630 hadits.

Abdullah adalah putra khalifah ke dua Umar bin al-Khaththab saudarah kandung Sayiyidah Hafshah Ummul Mukminin. Ia salah seorang diantara orang-orang yang bernama Abdullah (Al-Abadillah al-Arba’ah) yang terkenal sebagai pemberi fatwa. Tiga orang lain ialah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin al-Ash dan Abdullah bin az-Zubair.

Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi diutus Umurnya 10 tahun ketika ikut masuk bersama ayahnya. Kemudian mendahului ayahnya ia hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud ia masih terlalu kecil untuk ikut perang. Dan tidak mengizinkannya. Tetapi setelah selesai perang Uhud ia banyak mengikuti peperangan, seperti perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan basrah dan Madain.

Az-Zuhri tidak pernah meninggalkan pendapat Ibnu Umar untuk beralih kepada pendapat orang lain. Imam Malik dan az-Zuhri berkata: ”Sungguh, tak ada satupun dari urusan Rasulullah dan para sahabatnya yang tersembunyi bagi Ibnu Umar”. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Sayyidah Aisyah, saudari kandungnya Hafshah dan Abdullah bin Mas’ud. Yang meriwayatkan dari Ibnu Umar banyak sekali, diantaranya Sa’id bin al-Musayyab, al Hasan al Basri, Ibnu Syihab az-Zuhri, Ibnu Sirin, Nafi’, Mujahid, Thawus dan Ikrimah.

Ia wafat pada tahun 73 H, ada yang mengatakan bahwa Al-Hajjaj menyusupkan seorang kerumahnya yang lalu membunuhnya. Dikatakan mula mula diracun kemudian di tombak dan di rejam. Pendapat lain mengatakan bahwa ibnu Umar meninggal secara wajar.

Sanad paling shahih yang bersumber dari ibnu Umar adalah yang disebut Silsilah adz- Dzahab (silsilah emas), yaitu Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin Umar. Sedang yang paling Dlaif : Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim dari bapaknya, dari kakeknya, dari ibnu Umar.


Sumber :
- Disalin dari Biografi Ibnu Umar dalam Al-Ishabah no.4825 dan Tahdzib al-Asma’ 1/278, Thabaqat Ibn Sa’ad 4/105.

Abdullah bin 'Abbas (Wafat 68 H)


Abdullah bin Abbas adalah sahabat kelima yang banyak meriwayatkan hadist sesudah Sayyidah Aisyah, ia meriwayatkan 1.660 hadits.

Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti Harits saudari ummul mukminin Maimunah.

Sahabat yang mempunyai kedudukan yang sangat terpandang ini dijuluki dengan Informan Umat Islam. Beliaulah asal silsilah khalifah Daulat Abbasiah. Dia dilahirkan di Mekah dan besar di saat munculnya Islam, di mana beliau terus mendampingi Rasulullah sehingga beliau mempunyai banyak riwayat hadis sahih dari Rasulullah . Beliau ikut di barisan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal dan perang Shiffin. Beliau ini adalah pakar fikih, genetis Arab, peperangan dan sejarah. Di akhir hidupnya dia mengalami kebutaan, sehingga dia tinggal di Taif sampai akhir hayatnya.

Abdullah lahir tiga tahun sebelum hijrah dan Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam mendoakannya “Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”. Allah mengabulkan doa Nabi-nya dan Ibnu Abbas belakangan terkenal dengan penguasaan ilmunya yang luas dan pengetahuan fikihnya yang mendalam , menjadikannya orang yang dicari untuk di mintai fatwa penting sesudah Abdullah bin Mas’ud, selama kurang lebih tiga puluh tahun.

Tentang Ibnu Abbas, Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah berkata : ”Tak pernah aku melihat seseorang yang lebih mengerti dari pada Ibnu Abbas tentang ilmu hadits Nabi Shallallahu alaihi Wassalam serta keputusan2 yang dibuat Abubakar ,Umar , dan Utsman“.

Begitu pula tentang ilmu fikih ,tafsir ,bahasa arab , sya’ir , ilmu hitung dan fara’id. Orang suatu hari menyaksikan ia duduk membicarakan ilmu fiqih, satu hari untuk tafsir, satu hari lain untuk masalah peperangan, satu hari untuk syair dan memperbincangkan bahasa Arab. "Sama sekali aku tidak pernah melihat ada orang alim duduk mendengarkan pembicaraan beliau begitu khusu’ nya kecuali kepada beliau. Dan setiap pertanyaan orang kepada beliau, pasti ada jawabannya”.

Menurut An-Nasa’I, sanad hadits Ibnu Abbas paling Shahih adalah yang diriwayatkan oleh az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utba, dari Ibnu abbas. Sedangkan yang paling Dlaif adalah yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Marwan as-Suddi Ash-Shaghir dan Al-Kalabi, dari Abi Shalih. Rangkaian ini disebut silsilah Al-Kadzib (silsilah bohong).

Ibnu Abbas mengikuti Perang Hunain, Thaif, Penaklukan Makkah dan haji wada’. Ia menyaksikan penaklukan Afrika bersama Ibnu Abu as-Sarah. Perang Jamal dan Perang Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib.

Ia wafat di Thaif pada tahun 68 H. Ibnu al-Hanafiyah ikut menshalatkannya.

Sumber :
- Disalin dari : Biografi Ibnu Abbas dalam Al-Ishabah no.4772.

Gugatan Orientalis Terhadap Hadits


Orientalis Menggugat Hadits Nabi SAW
Oleh : Muhammad Rikza Muqtada

Tidak perlu diragukan lagi bahwa Hadits merupakan sumber ajaran Islam di samping al-Qur’an. Mengingat begitu pentingnya Hadits, maka studi atau kajian terhadap Hadits akan terus dilakukan, bukan saja oleh umat Islam, tetapi oleh siapapun yang berkepentingan terhadapnya.

Hadits Nabi SAW diyakini oleh mayoritas umat islam sebagai bentuk ajaran yang paling nyata dan merupakan realisasi dari ajaran islam yang terkandung dalam Al Qur’an .
Mengingat begitu kompleksnya hadits Nabi SAW, banyak tokoh yang mengkajinya termasuk orang yang ingin meruntuhkan islam. Mereka mengkaji dan meneliti hadits Nabi dengan maksud melemahkan argumentasi yang menjadi dasar keislaman. Secara tidak langsung mereka menghipnotis umat yang menjadikan hadits sebagai pedoman agamanya untuk meragukan kebenaran hadits.
Mereka adalah kaum orientalis, segolongan sarjana barat yang mendalami bahasa-bahasa dunia timur dan kasusastraannya, dan mereka menaruh perhatian besar terhadap agama-agama dunia timur dan semua yang terkait dengan timur .
Yusuf qordhowy menyebutkan beberapa tokoh yang getol dalam mempelajari kaum oksidentalis (kebalikan dari kaum orientalis), diantaranya Goldziher, Schacht dan jyunboll.

Menurut Azami sarjana barat yang mengkaji hadits pertama kali adalah Ignaz Goldziher. Ignaz dengan bukunya yang berjudul Muhammadanische Studies memaparkan bahwa hadits adalah sebuah corpus yang berisikan perkataan, perbuatan ataupun ketetapan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW dan tidak lebih dari sekedar catatan atas kemajuan yang dicapai islam di bidang agama, sejarah dan sosial pada abad pertama dan kedua hijriyah, hampir tidak mungkin untuk meyakinkan bahwa hadits dapat dinyatakan sebagai asli dari Muhammad atau generasi sahabat. Pernyataan Ignaz mampu meragugan otentitas hadits yang dilengkapi studi kritis ilmiah yang dia lakukan .

sebagai contoh, tatkala ada kasus di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz tentang penulisan hadits Nabi, Ignaz mencoba untuk menyelewengkan perkataan para pejabat yang ditujukan kepada Syihab az Zuhri untuk menghimpun dan menulis hadits yang sudah pernah ada. Menurut Ignaz, az-Zuhri mengatakan dengan redaksi “ahadits” yang berpola nakiroh (tanpa al) yang berarti menulis dan menghimpun hadits-hadits baru. Namun dalam kutipan Ibnu Sa’ad dan Ibnu Asyakir, az Zuhri menceritakan perintah dari pemerintah itu dengan redaksi “al ahadits” dengan pola ma’rifah (sudah definitif) yang berarti keberadaan hadits-hadits Nabi sudah ada namun belum dikodifikasi dengan baik.

Disamping itu juga, Ignaz menuduh bahwa para ulama’ hanya mengkritik sanad-sanad hadits tanpa mengkritik matannya sehingga kevaliditasannya dipertannyakan. Menurutnya kritik matan itu mencakup barbagai aspek seperti politik, sains, sosio kultural dan lain sebagainya, sehingga perlu diberi perhatian khusus dalam kritik hadits.

Sedikit beda dengan Ignaz, Schacht lebih meragukan pada kesimpulan kritik hadits. Ia beranggapan bahwa sistem isnad mungkin valid untuk melacak hadits-hadits sampai pada ulama’ abad kedua, tapi rantai periwayatannya yang merentang ke belakang sampai pada Nabi SAW dan para sahabat adalah palsu.
Dengan beberapa teori, terutama common link, ia menjustice bahwa dalam sebuah susunan sanad kadang terdapat tambahan tokoh-tokoh tertentu untuk mendukung keabsahan sebuah riwayat. Semua sanad yang terdiri dari hubungan keluarga, bapak dan anak, adalah palsu. Isnad keluarga tidak menjamin keaslian bahkan dipakai untuk membuat hadits kelihatan tanpa cacat. Pernyataan Schacht dikuatkan oleh Jyunboll dalam karyanya Muslim Traditions : Studies in Cronology Provenance and Authorship of Early Hadith dan The Date of the Great Fitna .

Menurut Muhadditsin, isnad baru dipergunakan secara cermat pasca terjadinya “fitnah” tragedi pembunuhan khalifah Utsman (656M). Jyunboll menolak konsep ini dengan berdasarkan pada karya Ibn sirin, bahwa penggunaan isnad baru dimulai ketika “fitnah” tragedi peperangan antara Abdullah bin Zubair dengan dinasti Umayyah yang pada akhirnya berdampak pada banyaknya hadits-hadits palsu. Seperti hadits “man kadzaba ‘alaiyya…..”. Jyunboll menemukan sekurang-kurangnya 5 jalur sanad yang disandarkan pada Abu Hanifah yang dimana menurutnya ia telah wafat sebelum penyusunan hadits itu terjadi. Hal ini sangat rasional mengingat Abu Hanifah merupakan tokoh yang sering menyampaikan hadits .