Rabu, 05 Juni 2013

Fase Penciptaan Manusia (A)



Oleh : Abdullah M. al-Rehaili

Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul untuk seluruh dunia sebagaimana yang difirmankan Allah di dalam al-Quran,

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuknya rahmat bagi sernesta alam. " (QS al-Anbiyaa' : 107)

Dan Nabi Muhammad SAW juga utusan Allah untuk orang Badui yang tinggal di gurun sebagaimana dia utusan Allah untuk ilmuwan sekarang ini yang dipenuhi alat-alat laboratorium modern. Dia adalah utusan Allah untuk semua manusia di setiap saat. Sebelum Nabi Muhammad SAW setiap rasul diutus semata-mata untuk kaumnya sendiri. . .

"Kamu hanyalah seorang pemberi peringatan, dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. " (QS ar-Ra'ad : 7)

Akan tetapi, pesan Nabi Muhammad SAW adalah un­tuk seluruh umat manusia, dan untuk alasan itulah Allah memberi bukti yang mendukung pesan Nabi Muhammad SAW Bukti ini berbeda dengan bukti-bukti yang diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Bukti kerasulan yang terdahulu hanya dilihat pada zamannya dan kemungkinan generasi setelah mereka. Kemudian Allah menurunkan rasul yang baru, yang didukung dengan keajaiban-keajaiban baru, untuk membangkitkan kepercayaan kaumnya. Akan tetapi, Nabi Muhammad SAW karena dipersiapkan sebagai rasul yang terakhir sampai Hari Kebangkitan, Allah memberinya mukjizat yang abadi sebagai bukti yang mendukung, yaitu al-Quran.

Jika kita bertanya kepada orang Yahudi atau Nasrani yang menunjukkan kepada kita mukjizat Nabi Musa AS atau Nabi Isa AS yang mungkin sebagai berkah dan perjanjian Allah kepada mereka, maka keduanya akan menyampaikan ini tidak dalam jangkauan manusia un­tuk mempertunjukkan kembali beberapa mukjizat sekarang. Nabi Musa memiliki mukjizat tongkat yang tidak dapat diciptakan atau Nabi Isa AS diminta untuk menghidupkan kembali orang dari kematian. Untuk kita sekarang, mukjizat-mukjizat ini tidak lebih hanya menjadi laporan sejarah. Tetapi jika seorang Islam ditanya tentang mukjizat terbesar Nabi Muhamad SAW dia dapat menunjukkan al-Quran. Al-Quran adalah sebuah mukjizat yang meninggalkan bekas di tangan kita. Al-Quran adalah buku yang terbuka untuk semua orang untuk mengujinya.

Sebagaimana firman Allah di dalam al-Quran:

"Katakanlah: Apakah keterangan (saksi) yang paling besar? Katakanlah: Allah, Dia men­jadi saksi antara aku dan kamu. Dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku, supaya dengan itu aku dapat memberi pengertian kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran kepadanya. " (QS al-An'am : 19)

Alam yang menakjubkan dari al-Quran di mana terletak pengetahuan di dalamnya. Allah Yang Maha Agung berfirman:

". . . tetapi Allah mengakui al-Quran yang diturunkan Nya kepadamu (Muhammad), Al­lah menurunkannya dengan ilmu Nya. " (QS an­Nisa : 166)

Oleh karena itu, para ilmuwan di zaman kita dan para sarjana, profesor di beberapa universitas yang memimpin pemikiran manusia, memiliki kesempatan untuk menguji pengetahuan yang ditemukan dalam firman Allah. Pada zaman sekarang, para ilmuwan telah mengungguli dalam penemuan alam semesta, akan tetapi al-Quran lebih dulu telah menjelaskan alam semesta dan sifat alami manusia sebelumnya. Sehingga, apa hasilnya?

Kami menghadirkan Profesor Emeritus Keith Moore, salah satu dari ilmuwan dunia yang terkemuka dalam bidang Anatomi dan Embriologi. Kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis ilmiah dari beberapa versi al-Quran secara spesifik kepada kita dan hadis mengenai lapangannya secara khusus.

ProfesorMoore adalah penulis buku yang berjudul "The Development Human". Dia adalah Profiesor Emeritus ahli Anatomi dan Sel Biologi Universitas Toronto, Kanada, di mana dia Ketua Jurusan Basic Sciences, Fakultas Kesehatan, dan selama 8 tahun Ketua Jurusan Anatomi. Prof. Moore sebelumnya juga mengabdi pada Universitas Winndipeg, Kanada, selama sebelas tahun. Dia mengepalai beberapa Internasional Associations of Anatomist and the Counalofthe Union of Biological Science. Profesor Moore juga terpilih anggota Royal Medical Associations of Canada, the Intemational Academy of Cytology, the Union of American Anatomist dan the Union of North dan South American Anatomist, dan pada tahun 1984 menerima penghargaan yang terkenal dalam bidang anatomi di Kanada, JCB Grant Award dari the Canadian Association of Anatomist. Dia menerbitkan beberapa buku di klinik Anatomi dan Embriologi, delapan dari buku ini digunakan sebagai referensi di sekolah medis dan talah diterjemahkaii ke dalam enam bahasa.

Ketika kami bertanya kepada Profesor Moore untuk memberikan analisis kepada kami tentang ayat al-Quran dan sabda nabi, maka dia terkejut. Dia heran bagaimana Nabi Muhammad SAW pada 14 abad yang lalu dapat mendeskripsikan embrio dan fase perkembangannya secara detail dan akurat, yang mana para ilmuwan untuk mengetahui hal itu baru tiga puluh tahun terakhir. Akan tetapi, keterkejutan Profesor Moore itu berkembang begitu cepat menjadi kekaguman terhadap wahyu dan petunjuk ini. Dia memperkenalkan sudut pandang ini secara intelektual dan lingkungan ilmiah. Dia juga memberi sebuah surat pada kesesuaian embriologi modern dengan al-Quran dan Sunnah, di mana dia menyatakan sebagai berikut: "Ini merupakan kesenangan yang besar bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan di dalam al-Quran tentang perkembangan manusia. Telah jelas bagi saya bahwa pernyataan yang datang kepada Nabi Muhammad pasti dari Allah atau Tuhan sebab hampir semua pengetahuan tidak ditemukan sampai beberapa abad terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. "

Pertimbangan yang terkenal dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Allah berfirman di dalam al-Quran tentang tingkatan penciptaan manusia:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. " (QS al-Mukminun : 12-14)

Kata alaqah dalam bahasa Arab memiliki tiga arti. Pertama, berarti pacet atau lintah; kedua, berarti sesuatu yang tertutup; dan ketiga, berarti segumpal darah.

Dalam perbandingan lintah air tawar dengan em­brio pada tingkat alaqah, Profesor Moore menemukan persamaan yang besar di antara keduanya. Dia menyimpulkan bahwa embrio selama tingkatan alaqah kenampakannya mirip dengan lintah itu. Profesor Moore menempatkan gambar sisi embrio dengan sisi gambar seekor lintah. Dia memperlihatkan gambar gambar ini kepada para ilmuwan di beberapa konferensi.

Arti kedua dari kata alaqah adalah sesuatu yang tergantung. Hal ini dapat kita lihat dalam penggabungan embrio dengan uterus dalam rahim ibu selarna masa alaqah. Arti ketiga kata alaqah adalah segumpal darah. Hal ini berarti, sebagaimana yang diungkapkan Profesor Moore, bahwa embrio selama selama fase alaqah  melalui kejadian di dalam, seperti formasi darah di dalam pembuluh darah tertutup, sampai putaran metabolisme yang dilengkapi dengan plasenta. Selama fase alaqah, darah ditarik di dalam pembuluh darah tertutup dan itulah mengapa embrio tampak seperti segumpal darah, tampak juga seperti lintah. Kedua deskripsi itu dijelaskan secara menakjubkan dengan kata alaqah di dalam al-Quran.

Bagaimana Nabi Muhammad SAW kemungkinan telah mengetahui dirinya. Profesor Moore juga mempelajari embrio saat fase mudghah (gumpalan seperti zat/ substansi). Dia mengambil lempengan tanah liat yang kasar dan mengunyahnya ke dalam mulut. Kemudian membandingkan lempengan itu dengan sebuah gambar embrio saat fase mudghah. Profesor Moore me­nyimpullkan bahwa embrio saat fase mudghah tampak jelas seperti gumpalan zat. Beberapa majalah di Kanada menerbitkan beberapa pernyataan Profesor Moore. Lagi pula, dia menjelaskan dalam tiga acara TV di mana dia menyoroti kesesuaian ilmu pengetahuan modern dengan apa yang tersebut di dalam al-Quran selama 1400 tahun. Akibatnya, Profesor Moore ditanya dengan pertanyaan seperti berikut: "Apakah hal ini berarti kamu percaya bahwa al-Quran itu firman Allah?" Kemudian beliau menjawab: "Saya tidak menemukan kesulitan dalam penemuan hal ini." Profesor Moore juga ditanya: "Bagaimana Anda percaya dengan Nabi Muhammad SAW jika Anda masih percaya dengan Yesus Kristus?" Dia menjawab: "Saya percaya keduanya, karena keduanya dari sekolah yang sama."

Dengan demikian, semua ilmuwan modern yang ada di dunia sekarang ini datang untuk mengetahui bahwa al-Quran itu adalah pengetahuan yang diturunkan dari Allah.

"Akan tetapi Allah mengakui al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu Nya. . . . . .. " (QS an Nisa : 166)

Hal ini juga diikuti bahwa ilmuwan modern tidak menemukan kesulitan dalam mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

USAHA UMMAT ISLAM MENANGKIS SERANGAN ORIENTALISME



Sekalipun kaum penjajah sudah angkat kaki, tapi ajaran-ajaran dan sistemnya terus dijalankan oleh mereka yang telah keracunan oleh ajaran-ajarannya itu dan diteruskan oleh pengikut-pengikut yang mereka tinggalkan.

1. Defensif
Agar Ulama-ulama, Juru Da’wah, Muballigh serta pemimpin-pemimpin Islam aktif menangkis tuduhan-tuduhan, pemalsuan dan propaganda berbisa yang sengaja dilontarkan oleh Orientalis, supaya ummat Islam sadar, insaf dan lebih aktif membahas dan mempelajari ajaran agama Islam dan mengamalkannya.

Usaha ini memerlukan alat-alat dan mass media pula, memerlukan Juru Da’wah yang khusus dan berilmu tinggi, berakhlak mulia, berjiwa jihad dan beramal karena Allah, dalam ilmunya mengenai Islam, juga memahami taktik dan strategi serta tulisan dan karangan musuh-musuh Islam, dan mengerti bahasa-bahasa asing: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia dan terutama sekali bahasa Arab.

Di samping ilmu dan kesungguhannya itu PERLU ADANYA IKATAN (ORGANISASI) Juru-juru Da’wah dan Organisasi Da’wah untuk menghimpun dan.mengatur kerjasama dan mengatur taktik dan strategi Islam.

2. Tabligh
Agar ummat Islam aktif menyiarkan dan menyebar luaskan ajaran Islam ke seluruh negeri yang belum beragama dan ke negeri-negeri yang belum sampai padanya ajaran Islam. Ini pun memerlukan adanya juru da’wah yang militan dan ulet, berilmu dan mengerti betul tentang Islam, cerdas, dan tergabung dalam kelompok mubaligh guna menghadapi lawan-lawan Islam dalam segala bentuk, nama dan tindakan serta serangannya seperti dijelaskan di atas.

Ingatlah firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104, yang artinya: “Hendaklah di antara kamu ada ummat yang menyeru kepada kebaikan, melakukan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar mereka itulah orang yang menang.”

Surat As-Shaf ayat 14, yang artinya: “Wahai orang-orang beriman! Hendaklah kamu menjadi Pembela agama Allah, seperti yang dikatakan oleh Isa bin Maryam kepada pengikutnya: Siapa yang akan menolongku untuk menegakkan agama Allah? Dijawab oleh pengikutnya spontan (langsung): ‘Kami ansharullah’ (Pembela Agama Allah).”

Karena itu, wajib bagi semua ummat Islam berjuang dan aktif berda’wah menyiarkan dan membela Islam dengan semua kemampuan, harta, tenaga, ilmu dan semua yang dimiliki, baik kedudukan, jabatan, kekuasaan, ilmu dan segalanya, agar dimanfaatkan untuk mengeluarkan ummat manusia dari Zhulumat (musyrik, kafir, munafiq, fasiq, bodoh, melarat, miskin, lemah, dianiaya, pecah-belah, dan lain-lain), kepada an NUUR (bertauhid, beriman, istiqamah, beramal shaleh, pintar, makmur, kuat, adil, bersatu, dan lain-lain) sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam yang meliputi Tauhid, Hukum sanksi, warisan, akhlak, jihad, dan semua mu’malat, politik, ekonomi, dan lain-lain, tanpa menambah atau mengurangi.

Oleh Dr. Abdul Mu’nim Muhammad Hasanain, dari Majalah ISLAMIC UNIVERSITY MADINA, Nomor 2 Tahun ke-X, Ramadhan 1397/Agustus 1977, halaman 79-105.


Diterjemahkan dan diringkaskan oleh Anhar Burhanuddin, M.A.; Jakarta, 10 Mei 1978 - (LPPA)

USAHA PROPAGANDA



Oleh : Dr. Abdul Mun’im Moh. Hasanain (Guru Besar pada Islamic University Medinah)

Untuk mencapai maksudnya yaitu memalingkan kaum Muslimin dari agamanya, dan melemahkannya hingga mereka tak mampu melawan serangan musuh dan penggerogotan da’wah, kaum Orientalis menggunakan berbagai cara lain dengan memperalat segala kemungkinan yang dipakai oleh ummat Islam sendiri.

1. Propaganda penyesatan dengan memakai nama Islam
Orientalis menggunakan aliran-aliran Tasauf dan aliran Kepercayaan/Kebatinan Bahaiy dan Qodyaniyah.

a. Aliran Tasauf
Kepercayaan ini mendawahkan bahwa mereka ingin menempuh jalan untuk sampai pada Allah, tapi tidak dengan menempuh jalan yang diatur oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Nabi dalam Sunnah; mereka membuat cara sendiri, yang tidak diizinkan Allah, dan membuat ketentuan/undang-undang Suluk, yang melakukan zuhud (memencilkan diri dari keduniaan), latihan jiwa mengharamkan yang halal, dan membunuh nafsu. Mereka mengambil ajaran-ajaran agama, atau aliran-aliran lain, yang mereka rasakan dan kira-kira belum terdapat dalam agama Islam dan tentu Syaitan menggiringnya pada khayalan-khayalan yang tak ada hakekatnya, sehingga mereka membenamkan diri ke dalam ikatan-ikatan Wihdatul Wujud, serta tidak mengakui Syari’at, menyama-ratakan antara Iman dan Kafir serta menyamakan antara ta’at dan durhaka dan da’waan penyaksiannya pada Tuhan bagi segala yang ada.

Lihat kitab karangan Ibnu Arraby, salah seorang aktivis yang aktif mengupas. tentang kaum tasauf (Wihdatul Wujud) yang sesat.

b. Bahaiy
Bahaiy lahir di Iran pada abad ke-19, yang mengambil inspirasi dari ajaran Syiah, disebarkan dan dikembangkan oleh Syirazy (keturunan Yahudi yang mengaku beragama Islam) yang bergelar BABA, tak berapa lama sesudah Imam ke-12 Muhammad bin Hasan al Ashary yang kelahirannya dinanti-nantikan oleh sekte “Syiah Imam 12”.

Kemudian kebohongan ini terbukti dengan kehobongan Al Baba (Syirazy) di kalangan Syi’ah, yang menyatakan bahwa imam yang sudah hilang, akan muncul di Tebriz (Iran) (Adzarbijan.)

Kaum Syi’ah meyakini, bahwa imam ini akan timbul/bangkit di Timur Iran, di suatu gunung yang bemama “Kouh Khada”, artinya “Gunung Allah”. Kemudian Al Baba ditangkap dan dihukum mati, dan sebelum dihukum mati diumumkan, bahwa Imam yang dimaksudnya ialah muridnya “Hasan Sabah Azal” yang bergelar “Baha’ullah” dan dinamakanlah alirannya Al-Baha’iy karena dihubungkan dengan Baha’ullah ini, yang lari dari Iran. Baha’ullah menda’wakan dirinya Nabi, yang diutus membawa agama baru, pembaharu Islam, dan kepadanya diturunkan kitab. Selama hidupnya ia giat menyiarkan ajaran Bahaiy ini. Dia dikuburkan di Palestina yang diduduki Israel.

Propaganda Aliran Bahaiy serupa dengan Komunisme, yaitu melepaskan diri dari ikatan dan ajaran agama, dengan kedok “kedamaian dan anti perang”, memberikan kebebasan pada wanita sesuka hatinya, menjadikan tahunan jadi 19 bulan. Jadi hakekat ajaran ini benar-benar menyeleweng dari Islam dan merusak agama Islam.

Propaganda Bahaiy ini disokong oleh Kolonialis dan Orientalis, demi untuk merusak dan memalsukan Islam. (Lihat Al-Qodyani dan Al-Qodyaniyah, karangan Abu Hasan An Nadawy, halaman 19 dan seterusnya).

c. Al-Qadyaaniyah
Yaitu propaganda penyesatan yang timbul di India, pada akhir abad ke-19, yang berkedok (memakai) nama Islam, didirikan oleh MIRZA GHULAM AHMAD dan pusat kegiatannya di India, penganutnya ialah rakyat India juga, kemudian meluas ke luar negeri dan bermunculan di negara-negara Asia, Afrika. Inipun disokong oleh Kolonialis dan Orientails.

Gerakan Qodyaniyah ini timbul di masa udara pemikiran dan politik India sesudah revolusi menentang penjajahan Inggris pada tahun 1875, yaitu Revolusi yang menghancurkan ummat Islam. Maka Qodyani mengikuti langkah politik kolonial. Dengan langkah kebudayaan ini, mereka mendapat bantuan dari Inggris. Tujuannya adalah menggoncangkan aqidah Islam, karena Islam-lah sumber yang membangkitkan roh jihad membela agama, tanah air, harta benda dan jiwa. (Lihat Al-Qodyani karangan Abu Hasan An Nadawy).

Di samping itu Kolonialis memperalat aliran-aliran Tasauf dan kebatinan yang telah menyeleweng untuk menyebar luaskan perbuatan-perbuatan bid’ah, khurafat. Dalam keadaan orang Islam India putus asa dan grogi, dan menyerah pada tekanan situasi yang berbahaya, banyak di antara mereka yang digiring masuk ke dalam aliran Qodyani yang bathil, yang dipelopori oleh Mirza Ghulam Ahmad di Punjab.

Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang yang diagungkan oleh Inggris, yang di masa mudanya terkenal dengan penganut aliran Tasauf, dan menyendiri. Kemudian dia jadi tokoh di kalangan ummat Islam dan mengutip ayat-ayat Al Qur’an dan sebagiannya yang diselewengkan, yang bagi orang awamdan tidak hafal Qur’an, sama saja antara Qur’an dengan bahasaArab. Ini adalah usahanya merusak Qur’an.

Bukan sekedar itu saja, bahkan dia menda’wakan dirinya sebagai Nabi yang menerima wahyu, dan dia aktif menyiarkan ajarannya ini untuk maksud politik yang digariskan oleh Kolonial. Dia menghapuskan Jihad, sebagai kewajiban umat Islam dia mengancam revolusi Islam menentang penjajah Inggris di India.

Dalam bukunya TERYAQ QULUB, Mirza Ghulara Ahmad mengatakan: “Saya menggunakan sebagian besar umurku untuk menyokong pemerintah Inggris, dan mencegah jihad, wajib taat pada Ulil Amri (Inggris).” Ini ditulis dalam buku-buku selebaran-selebaran, brosur-brosur yang kalau mungkin dikumpulkan semuanya telah memenuhi 50 gudang. Buku-buku ini tersebar di negeri-negeri Arab, Mesir, Syiria, Turki serta Indonesia dan lain-lain, yang tujuannya agar ummat Islam toleransi dan mengakui kekuasaan penjajah; dia memuaskan hatinya dengan kisah Al Mahdi dan Al Masih yang ditunggu datangnya kembali ke bumi, dan menghapuskan perasaan Jihad dan lain-Iain.

Ini membuktikan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad menggunakan Qodyaniyah sebagai alat untuk mematahkan cita-cita ummat Islam India, supaya mereka tidak melakukan perlawanan terhadap Inggris dan menerima kehinaan serta perbudakan. Artinya, Qodyaniyah adalah produk Kolonial. Inilah rahasia yang menjadikan Qodyan masih berkembang sesudah matinya Mirza Ghulam Ahmad tahun 1908, dan pengikut-pengikut Mirza ini aktif menyiarkan aliran-aliran ini di kalangan ummat Islam dengan giat atas bantuan biaya dan moril dari musuh-musuh Islam. Qodyan membuka cabang-cabangnya di Eropa, Asia dan Afrika yang menggunakan nama sebagai da’wah Islam. Penganut Qodyaniyah bekerjasama menyebarkan faham kolonialisme bersama Orientalis dan Zionis.

Bahkan mereka sengaja menyerang Islam dengan menggunakan musuh-musuh Islam sebagai anggota da’wahnya, yang tentu mereka mengarah saja ke penggerogotan Islam, namun begitu Allah tetap melindungi Islam.

2. Menggunakan Mass Media
Orientalis selalu bersama Kolonialis dalam menyerang (memerangi Islam). Di negeri-negeri Islam sendiri, seluruh mass media modem selalu bekerjasama dengan Orientalis dalam memerangi Islam dan menggerogoti da’wahnya. Maka ummat Islam menghadapi perang pena, mass media yang membawa kebinasaan yang disampaikan mereka dalam surat-surat kabar, majalah-majalah, radio, televisi, film atau theater dan lain-lain.

Bahaya perang Mass Media (perang pena) ini besar sekali, sebab ia langsung meresap ke dalam otak dan hati tanpa koreksi, dan tanpa disaring oleh kebanyakan manusia dan ummat Islam. Fikiran-fikiran berbisa yang dilontarkan dan meresap ke dalam otak ummat Islam, fikiran-fikiran yang merusak dan berbisa ini sengaja ditiupkan dan dihembuskan oleh para orientalis antek kolonialis sebagai taktiknya menyerang Islam.

Mass media dipergunakan oleh musuh-musuh Islam itu untuk menghancurkan umat Islam, melalui tulisan-tulisan, gambar-gambar, film-film, fikiran, buku-buku, sandiwara, pidato-pidato, dan uraian yang berkedok ilmiah. Ini lebih berbahaya dari serangan fisik langsung oleh militer lengkap dengan persenjataannya sebab tentara itu mudah dilihat dan diketahui gerakan dan penyerangannya.

Yang sangat disayangkan sekali ialah bahwa ummat Islam di semua tempat tidak menyadari bahaya mass media yang disalah-gunakan ini, dan banyak pula para Juru Da’wah, Muballigh, menerima saja apa yang disiarkan oleh Mass Media.

Di zaman kita sekarang ini, umumnya Mass Media sering menyiarkan bermacam kefasadan, kemungkaran, kebebasan, atheis. Semuanya disajikan sesuai dengan apa yang berlaku di Eropah dan Amerika, di mana kebanyakan masyarakatnya sudah merosot sekali moralnya karena sudah dangkalnya paham dan pengertian agama mereka dan akibat terbongkarnya rahasia Kristen yang di dalam ajarannya sekarang banyak sekali kontradiksi (pertentangan-pertentangan) begitu pula ajaran Yahudi sendiri, semuanya tak sesuai lagi dengan akal yang sehat dan ilmu pengetahuan.

Sebaliknya, Islam dan ajarannya selamat dari kontradiksi itu. Islam menyeru kepada Tauhid, persatuan dan persaudaraan, keadilan, kemajuan dan sesuai dengan akal dan pengetahuan. Islam menyeru ummat manusia agar berjuang untuk mempertahankan agama Islam, mempertahankan tanah air, hak, diri, keluarga, dan lain-lain. Justru karena itulah Kolonialis dan antek-anteknya MENGUASAI MASS MEDIA untuk MENGELABUI dan MEMUTAR-BALIKKAN FAKTA.

3. Membesar-besarkan Tradisi Kuno
Membesar-besarkan adat dan tradisi serta perbuatan-perbuatan masyarakat di masa Jahiliyah, perbuatan-perbuatan bangsa primitif, yang dida’wakan dan dihembuskan bahwa hal yang seperti itu seolah-olah adalah ajaran Islam; ini dilakukan pula oleh para Ilmuwan Islam (munafiq) yang bekerjasama dengan Orientalis. Akhirnya mereka menuduhkan bahwa orang-orang Islam itu sama dengan Badui, Kubu, Ortodok, seperti suku terasing dan primitif, liar, fanatik, dan lain-lain. Syari’at Islam itu (menurut Orientalis ) hanya sesuai dengan orang-orang primitif dan orang ortodok, tak sesuai dan tak cocok dengan zaman modern, dan lain sebagainya.

Di samping itu, Orientalis dan anteknya selalu meniupkan hal-hal dan bibit perpecahan antara bangsa, pemisahan antara bangsa, pemisahan antara adat Arab, dan adat suatu bangsa dengan Islam.